Petani Grobogan Mulai Tinggalkan Komuditas Kedelai
GROBOGANTODAY.COM - Komoditas kedelai di Kabupaten Grobogan mengalami penurunan produksi, termasuk luas lahan juga terus menyusut. Kondisi tersebut diakibatkan minimnya keinginan petani menanam kedelai. Demikian diungkapkan Sunanto, Plt Kadinas Pertanian Kabupaten Grobogan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu(4/11/2020).
Sunanto mengatakan, selama kurun waktu tiga tahun terakhir, jumlah luas lahan kedelai mengalami penurunan drastis.
“Bisa terlihat dari luasan lahan untuk menanam kedelai, tahun 2018 mencapai 40 ribu hektare, kemudian tahun 2019 turun menjadi 9 ribu hektare. Sedangkan bulan ini, ada sekitar 1060 hektare lahan yang ditanami kedelai ," ungkapnya.
Menurutnya, penyebab menurunnya jumlah petani kedelai karena nilai ekonomi kedelai makin hari tak bisa diandalkan. Salah satu penyebabnya adalah harga jual kedelai yang rendah. Sehingga keuntungan yang didapat petani juga berkurang.
"Harga kedelai lokal di tingkat petani berkisar Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu per kilogram, selain itu kedelai lokal harus bersaing dengan kedelai impor yang banyak beredar di pasaran bahkan lebih diminati konsumen karena harganya lebih murah," tuturnya.
Sebagai gantinya, petani kedelai di Grobogan lebih memilih bertani atau beralih fungsi ke komoditas pertanian lain seperti jagung dan padi.
"Dibanding kedelai, jagung dianggap punya nilai jual yang cukup tinggi dan stabil, bahkan produksinya meningkat secara drastis setiap tahun," ujarnya.
Daerah yang saat ini masih menanam kedelai diantaranya Panunggalan, Crewek, Karangharjo dan Sembungharjo.
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete